\

Bappeda 55FM Vol.32: Hasil Kunjungan Kerja Jadi Bahan Penguatan Inovasi dan Kolaborasi Pembangunan Kota Tangerang

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang kembali menggelar kegiatan Bappeda 55FM (Sharing Session on Friday Morning) yang kini telah memasuki Volume 32. Kegiatan rutin ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman antarbidang, khususnya terkait hasil Kunjungan Kerja ke sejumlah daerah pada akhir tahun 2025.

Pada sharing session kali ini, masing-masing bidang memaparkan pembelajaran strategis yang dapat diadopsi dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan Kota Tangerang. Salah satunya disampaikan oleh Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RIDA) yang melakukan kunjungan ke Kota D.I. Yogyakarta. Dalam paparannya, disampaikan praktik baik pengembangan UMKM melalui konsep “Gandeng Gendong”, di mana UMKM yang telah berkembang didorong untuk membina dan mengajak UMKM yang masih kecil agar dapat tumbuh bersama.

Selain itu, Yogyakarta juga dinilai berhasil membangun kolaborasi riset dengan perguruan tinggi. Hal ini menjadi catatan penting bagi Bappeda Kota Tangerang untuk mendorong agenda diskusi dan berkelanjutan dengan kalangan akademisi guna memperkuat inovasi daerah, termasuk mendukung implementasi program 3G yang mana merupakan program unggulan Wali dan Wakil Wali Kota. Tidak hanya aspek program, perubahan mindset dan pembentukan karakter pelaku UMKM juga menjadi kunci peningkatan daya saing, yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan menekan angka pengangguran.

Sementara itu, hasil kunjungan Bidang Perencanaan Sarana dan Prasarana ke Kota D.I Yogyakarta dan Kementerian Perhubungan menyoroti pengelolaan transportasi publik seperti Trans Jogja serta pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini menjadi referensi penting dalam rencana pengembangan TOD Poris Plawad, termasuk koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Perhubungan untuk pengembangan TOD Stasiun Tangerang.

Dalam sesi tersebut juga dibahas penanganan kawasan kumuh yang dilakukan oleh Yogyakarta, penanganan yang dilakukan jumlahnya tidak besar, namun menunjukkan progres penanganan yang konsisten setiap tahunnya.

Penataan kawasan kumuh di Kota Tangerang sendiri dinilai membutuhkan koordinasi lintas sektor dan sinergi antarperangkat daerah agar pelaksanaannya lebih efektif dan berkelanjutan.

Kepala Bappeda Kota Tangerang, Dr. Hj. Yeti Rihaeti, menegaskan bahwa Bappeda 55FM merupakan forum strategis untuk memastikan hasil kunjungan kerja tidak berhenti sebagai laporan semata, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang aplikatif.

“Melalui Bappeda 55FM, kita ingin memastikan setiap pembelajaran dari daerah lain dapat diadaptasi sesuai karakter Kota Tangerang. Kami juga membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh pegawai Bappeda untuk menyampaikan ide dan gagasan inovatif, baik yang lahir dari hasil kunjungan kerja maupun dari pengalaman kerja sehari-hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, budaya berbagi ide dan inovasi internal menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan daerah.

“Bappeda harus menjadi rumah ide. Setiap pegawai memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam menghadirkan terobosan perencanaan yang berdampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Melalui Bappeda 55FM Vol.32, diharapkan semangat kolaborasi, keterbukaan, dan inovasi terus tumbuh guna mendukung terwujudnya pembangunan Kota Tangerang yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.