\

Bappeda Kota Tangerang Gelar Ekspose Laporan Pendahuluan Pandu Rancang Kota TOD: Menuju Kota Transit Modern dan Berkelanjutan

Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang menyelenggarakan kegiatan Ekspose Laporan Pendahuluan Penyusunan Pandu Rancang Kota untuk Transit Oriented Development (TOD) pada Rabu (16/7). Kegiatan ini merupakan bagian awal dari penyusunan dokumen penting yang akan menjadi pedoman pengembangan kawasan berorientasi transit di Kota Tangerang.

Penyusunan panduan ini dilakukan untuk menanggapi pesatnya pertumbuhan penduduk yang berdampak langsung pada kepadatan lalu lintas, terbatasnya lahan, serta tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Kawasan TOD diharapkan menjadi solusi jangka panjang melalui integrasi transportasi publik, peningkatan kualitas lingkungan, dan optimalisasi pemanfaatan ruang kota. Kegiatan ini merencanakan panduan penyelenggaraan dan Panduan Rancang Kota untuk TOD yang jelas dan terstruktur di 3 lokasi, yaitu TOD Poris Plawad, TOD Stasiun Tangerang, dan TOD Alam Sutera.

Melalui panduan ini, Bappeda ingin menyatukan antara fungsi ruang, bangunan, dan aksesibilitas transportasi yang efisien dan ramah lingkungan. Konsep TOD bukan hanya soal stasiun dan terminal, tetapi bagaimana kawasan sekitarnya tumbuh secara terstruktur dan manusiawi.

Dalam dokumen awal ini, narasumber memaparkan berbagai data pendukung seperti kondisi kependudukan, sistem transportasi, penggunaan lahan, serta analisis sosial dan ekonomi di ketiga kawasan TOD. Selain itu, pendekatan perencanaan yang digunakan juga menyelaraskan kebijakan nasional hingga daerah, termasuk RPJMD, RTRW, dan RDTR.

Prinsip Dasar Penyusunan TOD terdiri atas:

  1. WALK, pengembangan infrastruktur bagi pejalan kaki yang aman dan lengkap, serta dapat diakses oleh berbagai kalangan termasuk masyarakat disabilitas
  2. MIX, pengembangan untuk daerah yang memiliki penggunaan campuran sehingga menghasilkan jalan dan jalur yang tertata dengan baik
  3. CYCLE, memberikan prioritas transportasi tidak bermotor yang terjangkau guna mencapai tujuan jarak pendek
  4. DENSIFY, mengoptimalkan kepadatan ruang dan menyesuaikan dengan kapasitas angkutan public/massal dengan pembangunan vertical building
  5. CONNECT, menciptakan jaringan jalan, jalur pejalan kaki, dan jalur sepeda yang terhubung dengan mudah dan pendek
  6. COMPACT, pembangunan transportasi public/massal yang terintegrasi di wilayah terbangun yang mempunyai waktu tempuh pendek
  7. TRANSIT, pengembangan tempat yang mampu saling terintegrasi ke transportasi public/massal
  8. SHIFT, meningkatkan mobilitas angkutan public/massal beserta dengan regulasinya, sehingga akan menarik minat masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan public/massal.

Pandu Rancang dalam Konteks TOD

  1. Peruntukan Lahan, TOD menuntut peruntukan lahan campuran (mixed-use).
  2. Intensitas Pemanfaatan Lahan, TOD memerlukan kepadatan tinggi di sekitar simpul transportasi.
  3. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
  4. Tata Bangunan
  5. Sistem Prasarana dan Utilitas Lingkungan
  6. Tata Kualitas Lingkungan
  7. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau
  8. Pelestarian Bangunan dan Lingkungan, Dalam konteks TOD, pelestarian diarahkan pada penyesuaian bangunan lama agar tetap berfungsi dalam sistem yang lebih padat dan terintegrasi.

Konsep awal yang ditawarkan di masing-masing lokasi mengusung tema kawasan yang berbeda. TOD Stasiun Tangerang dikembangkan sebagai Preservasi Kawasan yang Berbasis Heritage yang Mengintegrasikan Mobilitas Modern dengan Pelestarian Identitas Arsitektur Kota Tua. TOD Poris Plawad-Batu Ceper sebagai Pusat Transportasi yang Terpadu, Padat, dan Berorientasi Transit untuk Mendukung Mobilitas Urban yang Berkelanjutan dan Efisien, sementara TOD Alam Sutera difokuskan sebagai Zona Aktivitas Ekonomi dan Perdagangan Terpadu Berbasis Transit yang Mendukung Pergerakan dan Pertumbuhan Ekonomi Kota sebagai Kota Transit.

Ekspose ini menjadi bagian dari rangkaian tahapan penyusunan dokumen yang akan dilanjutkan dengan pembahasan laporan antara, laporan akhir, serta penyusunan naskah akademis dan draft regulasi kepala daerah. Harapannya, dokumen Pandu Rancang Kota TOD ini dapat menjadi landasan teknis dan kebijakan yang kuat untuk pengembangan kawasan strategis di Kota Tangerang dalam lima tahun ke depan.

Dengan penyusunan panduan yang terstruktur ini, Kota Tangerang diharapkan semakin siap menjadi kota transit yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dan meningkatkan kualitas hidup warganya.