Bappeda Kota Tangerang Siapkan Pemanfaatan Lahan Aset Strategis
Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bappeda) Kota Tangerang menggelar Ekspos Laporan Pekerjaan Pra Desain
pada Lahan Aset Kota Tangerang pada Senin (8/12/2025). Kegiatan yang ini
merupakan upaya awal dalam menentukan arah pemanfaatan strategis berbagai lahan
aset milik pemerintah kota, demi mendukung pengembangan kawasan dan
perekonomian daerah.
Rapat yang berlangsung dengan
melibatkan perangkat daerah lintas sector mulai dari Dinas Perumahan,
Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), serta Dinas Pemuda dan Olahraga
(Disbudpar) membahas identifikasi potensi, permasalahan kawasan, hingga konsep
desain dan kebutuhan anggaran dari setiap lokasi aset yang dikaji.
Beberapa lahan prioritas yang
dipaparkan meliputi Gempol, Eks Pasar Pisang (Unis), Lapangan Tenis Jl. Ahmad
Yani, serta lahan di Jl. KH. Hasyim Ashari (Warung Bingung). Masing-masing
lokasi memiliki potensi dan karakteristik yang berbeda, sehingga alternatif
pengembangannya dirancang secara tematik dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Pada lokasi Gempol, dua konsep
besar diusulkan, yakni pembangunan fasilitas MICE (Meeting, Incentive,
Convention, Exhibition) dan pengembangan pusat olahraga modern yang berdaya
saing. Sementara itu, lahan Eks Pasar Pisang diarahkan menjadi ruang terbuka
publik yang inklusif dan multifungsi, sejalan dengan penguatan kawasan River
Front City. Adapun Lapangan Tenis Jl. Ahmad Yani dirumuskan sebagai kawasan
UMKM terpadu yang menghadirkan zona produksi, edukasi, serta ruang interaksi
komunitas. Untuk lahan Warung Bingung, opsi pengembangan MICE dan fasilitas
pendukung ekonomi lokal menjadi bahasan utama.
Dalam arahannya, Kepala Bappeda
Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menegaskan bahwa pengembangan lahan aset ini
harus selaras dengan city branding kota serta berdampak langsung pada ekonomi
masyarakat.
“Kota Tangerang harus memiliki
bangunan MICE yang mampu menjadi motor peningkatan perekonomian daerah.
Fasilitas ini bukan hanya ruang pertemuan, tetapi juga menjadi simpul aktivitas
yang mendorong kreativitas, olahraga, hingga kegiatan berskala nasional,” ujar
Hj. Yeti.
Beliau juga menyampaikan
dukungannya terhadap konsep pengembangan Eks Pasar Pisang sebagai ruang publik
yang memperkuat identitas kawasan sungai.
“Konsep taman bermain yang
terhubung dengan River Front City sangat tepat. Di lokasi itu juga dapat
dikembangkan Koperasi Merah Putih, mini sentra oleh-oleh, serta coffee shop
sebagai ruang interaksi warga dan UMKM,” tambahnya.
Terkait Lapangan Tenis Ahmad
Yani, Hj. Yeti menyoroti peluang besar Kota Tangerang untuk memiliki pusat
oleh-oleh premium.
“Saat ini kita belum memiliki
sentra oleh-oleh premium yang terkelola baik. Dengan penataan yang tepat dan
pengelolaan oleh Dekranasda, lokasi ini bisa menjadi showcase produk unggulan
kota,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala Bappeda juga
menekankan pentingnya melihat keunggulan aksesibilitas dalam perencanaan MICE,
terutama pada lahan yang memiliki akses langsung ke jalan tol.
“Ada pembebasan lahan sekitar 800
meter persegi yang secara strategis dapat dimanfaatkan untuk MICE dengan akses
langsung ke tol. Selain fungsi meeting, lokasi ini berpotensi menjadi arena
olahraga indoor berskala nasional,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, berbagai saran teknis dari dinas terkait turut diberikan, mulai dari kebutuhan pemenuhan KDB, KLB, RTH, analisis lalu lintas, hingga penekanan pada regulasi teknis dan potensi banjir pada lahan tertentu. Semua masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan laporan oleh konsultan.
Rapat ditutup dengan kesimpulan bahwa tim pengkaji diminta menyusun perbandingan anggaran untuk lokasi Warung Bingung dan Gempol, serta mengakomodasi seluruh masukan tematik dalam dokumen akhir. Ekspos lanjutan dijadwalkan setelah revisi dan penyempurnaan laporan dilakukan.