\

Bappeda 55FM Vol. 47 Bahas Outcome Based Learning, Dorong ASN Hasilkan Dampak Nyata bagi Masyarakat

Pembelajaran bagi pegawai tidak cukup hanya menghasilkan peningkatan kompetensi, tetapi juga harus bermuara pada aksi dan dampak nyata bagi masyarakat. Hal tersebut menjadi fokus dalam Bappeda 55FM (Sharing Session on Friday Morning) Vol. 47 yang membahas Outcome Based Learning (OBL), Jumat (2/10/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Yunita Virdianti, Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Tangerang, bersama Kurniawan dan Fatwadi selaku Widyaiswara BKPSDM Kota Tangerang.

Dalam kegiatan tersebut, para pegawai memperoleh pemahaman mengenai konsep Outcome Based Learning sebagai pendekatan pembelajaran berbasis aksi nyata yang menempatkan peserta sebagai pusat pembelajaran (student-centered). Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu menghasilkan produk atau solusi konkret untuk menjawab isu strategis yang dihadapi instansi.

Materi yang disampaikan turut membahas tiga fondasi utama OBL, yakni kebijakan dan isu strategis, tata kelola transformasi, serta aksi transformasi. Ketiga fondasi tersebut menjadi rangkaian proses yang mendorong peserta untuk memahami arah kebijakan, mengidentifikasi akar permasalahan, membangun kolaborasi lintas organisasi, hingga menyusun dan mengimplementasikan rencana aksi yang menghasilkan dampak terukur.

Kepala Bappeda Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menyampaikan dukungannya terhadap penerapan OBL yang dinilai dapat mendorong peningkatan kualitas kinerja aparatur sekaligus menjadi bagian dari upaya perubahan budaya kerja di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang.

“OBL ini merupakan sesuatu yang baik dan bagus, dan saya sangat mendukung penerapannya. Hal yang paling penting adalah bagaimana seluruh lini memahami apa yang dikerjakan, termasuk sejauh mana program dan kegiatan yang dilaksanakan benar-benar memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” ujar Yeti.

Menurutnya, manfaat OBL tidak hanya terbatas pada pengembangan kompetensi pegawai, tetapi juga harus tercermin dalam kemampuan aparatur mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk menjalankan tugas serta tanggung jawabnya secara optimal. Dengan demikian, program dan kegiatan yang dilaksanakan tidak sekadar menghasilkan keluaran, tetapi juga memberikan hasil dan dampak nyata bagi masyarakat.

“Jadi, manfaat dari OBL ini seharusnya memberikan dampak nyata. Bukan hanya tentang pengembangan kompetensi para pegawai, tetapi juga bagaimana kompetensi tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dalam menjalankan tanggung jawab maupun melaksanakan program dan kegiatan, sehingga dampak atau manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

 

Yeti berharap penerapan OBL dapat segera dilaksanakan secara lebih luas agar perubahan budaya kerja di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang dapat berlangsung ke arah yang lebih baik. Menurutnya, upaya tersebut memerlukan komitmen bersama, termasuk dukungan dari pimpinan daerah, agar pendekatan pembelajaran berbasis hasil dapat diterapkan secara efektif.

“Kalau bisa, OBL ini segera dilaksanakan agar perubahan budaya kerja di lingkup Pemerintahan Kota Tangerang dapat segera terjadi ke arah yang lebih baik. Tentunya, ini juga harus didukung oleh good will dari pimpinan, dalam hal ini Bapak Wali Kota. Saya yakin Bapak Wali Kota akan mendukung apabila pendekatan ini diterapkan oleh Bidang Diklat BKPSDM,” ungkap Yeti.

Sebagai langkah awal, ia menilai pemahaman mengenai perbedaan output dan outcome perlu diperkuat di kalangan pegawai. Dengan pemahaman tersebut, pegawai diharapkan tidak hanya berorientasi pada apa yang berhasil dikerjakan, tetapi juga mampu melihat hasil serta manfaat yang dihasilkan dari setiap program dan kegiatan.

Dalam materi OBL, pembelajaran dirancang melalui metode blended learning yang mencakup pembelajaran mandiri, klasikal, hingga eksekusi lapangan. Prosesnya diarahkan pada aksi transformasi, kolaborasi dengan pemangku kepentingan, serta pembuktian hasil dan dampak yang terukur.

Melalui Bappeda 55FM Vol. 47, Bappeda Kota Tangerang terus mendorong ruang berbagi pengetahuan dan pengembangan kapasitas pegawai, sekaligus memperkuat budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan, tetapi juga pada hasil dan manfaat nyata bagi masyarakat.