\

Bappeda 55FM Vol. 50: BPKP Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Kota Tangerang, Bappeda Perkuat Peran sebagai Pendamping OPD

Program dan anggaran yang besar belum tentu menghasilkan dampak optimal bagi masyarakat jika tidak dirancang berdasarkan kebutuhan dan tujuan pembangunan yang tepat. Hal ini menjadi perhatian Bappeda Kota Tangerang dalam menindaklanjuti Laporan Hasil Evaluasi Perencanaan dan Penganggaran  Pemerintah Kota Tangerang Tahun 2026 oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Banten.

Pembahasan tersebut menjadi agenda Bappeda 55FM (Sharing Session on Friday Morning) Vol. 50 yang kembali digelar sebagai upaya memperkuat pemahaman pegawai terhadap kualitas perencanaan dan penganggaran daerah, sekaligus menyamakan persepsi dalam memberikan pendampingan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Jum’at (23/10/26).

Berdasarkan hasil evaluasi BPKP, perencanaan dan penganggaran pada lima sektor prioritas, yakni pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, penurunan prevalensi stunting, dan ketahanan pangan, masih memerlukan sejumlah perbaikan. Evaluasi menyoroti belum sepenuhnya selarasnya indikator dan target dalam RPJMD dan RKPD, belum optimalnya koordinasi lintas OPD, serta adanya intervensi program dan alokasi anggaran yang belum sepenuhnya terhubung dengan hasil akhir pembangunan (ultimate outcome).

Salah satu catatan penting ialah belum memadainya pemetaan Critical Success Factor (CSF) atau faktor-faktor penentu keberhasilan. Kondisi ini berpengaruh terhadap ketepatan penentuan kegiatan, indikator, dan target kinerja, sehingga sebagian belanja berpotensi tidak efektif dalam mendukung pencapaian sasaran pembangunan.

Kepala Bappeda Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menegaskan bahwa hasil evaluasi tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas internal Bappeda, terutama dalam memahami hubungan antara sasaran strategis, indikator kinerja, dan kegiatan yang dilaksanakan OPD.

“Bappeda harus benar-benar memahami Critical Success Factor atau faktor-faktor penentu keberhasilan. Kita perlu mengetahui apa yang menjadi kunci tercapainya suatu sasaran, sehingga bisa memberikan arahan kepada OPD agar perencanaan dan kegiatan yang disusun benar-benar relevan dengan outcome yang ingin dicapai,” tegasnya.

Ia juga mengarahkan agar pemahaman tersebut diperkuat melalui pelatihan penyusunan prosedur identifikasi CSF dan pembelajaran bersama bagi seluruh pegawai Bappeda, tidak hanya tim asistensi. Dengan demikian, Bappeda dapat memberikan masukan yang lebih tepat kepada OPD, termasuk memastikan keselarasan antara Renstra, indikator kinerja, dan program maupun kegiatan yang direncanakan.

“Pasca evaluasi ini, saya minta Bappeda harus semakin kuat dalam memahami substansi perencanaan. Kalau ultimate outcome-nya A, sementara indikator dalam Renstra-nya B, kita harus mampu melihat apakah kegiatan yang dirancang sudah mengarah pada pencapaian sasaran tersebut. Kita harus bisa memberikan masukan dan mengarahkan OPD dengan pemikiran yang tepat,” ujarnya.

Melalui Bappeda 55FM Vol. 50, Kepala Bappeda berharap seluruh pegawai memiliki pemahaman yang sama dan semakin siap menjalankan peran Bappeda sebagai pengarah perencanaan pembangunan daerah. Evaluasi BPKP pun diharapkan menjadi bahan perbaikan untuk meningkatkan ketepatan intervensi, efektivitas penggunaan anggaran, serta keterhubungan antara program pemerintah dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

“Ayo kita belajar bersama dan serius memperkuat pemahaman ini. Bappeda harus mampu membimbing OPD agar setiap perencanaan yang disusun benar-benar berorientasi pada outcome dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan Kota Tangerang dalam mensejahterakan masyarakatnya,” tutupnya.