\

Bappeda Kota Tangerang Dorong Percepatan Penanganan Banjir dan Penguatan Akses Bandara Soetta

Penanganan banjir di kawasan sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta membutuhkan langkah konkret, pembagian tanggung jawab yang jelas, serta sinergi lintas instansi agar solusi yang disepakati dapat segera direalisasikan. Hal ini menjadi perhatian Pemerintah Kota Tangerang dalam Rapat Koordinasi Penanganan Banjir dan Aksesibilitas Bandara Soekarno-Hatta yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan secara daring, Kamis (22/10/2026).

Rapat dipimpin Asisten Deputi Sarana dan Prasarana Pendukung Konektivitas Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Liz Zeny Merry, serta dihadiri Bappeda Kota Tangerang, Jasa Marga, PT Angkasa Pura Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Pemerintah Kabupaten Tangerang, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Forum ini membahas langkah penanganan banjir sekaligus upaya menjaga kelancaran aksesibilitas menuju dan dari Bandara Soekarno-Hatta.

Kepala Bappeda Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Tangerang telah menyusun kajian teknis melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), termasuk untuk kawasan perimeter selatan bandara dan kawasan sekitar Hotel POP. Hasil kajian tersebut telah disampaikan kepada PT Angkasa Pura Indonesia melalui surat Wali Kota Tangerang tertanggal 5 Agustus 2026.

Menurut Yeti, kajian tersebut memuat sejumlah alternatif penanganan, mulai dari penyambungan saluran yang terputus, pembuatan sodetan, hingga pengaliran air menuju Kali Dadap. Namun, pelaksanaannya memerlukan kesepakatan bersama karena melibatkan kewenangan dan tanggung jawab berbagai pihak.

“Pemerintah Kota Tangerang berharap ada tindak lanjut atas kajian yang telah disampaikan, sehingga penanganan banjir di kawasan akses bandara dapat berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat Kota Tangerang. Kita perlu menyepakati langkah jangka pendek dan jangka panjang, termasuk pembagian tugas yang jelas, agar pemerintah daerah dapat mengetahui bagian penanganan yang menjadi tanggung jawabnya dan menyiapkan dukungan anggaran sesuai kewenangan,” ujar Yeti.

Dalam rapat tersebut, sejumlah langkah penanganan turut dibahas, di antaranya pembersihan dan normalisasi cross drain atau box crossing di bawah Tol Sedyatmo, terutama melalui pengangkatan sedimentasi agar aliran air kembali lancar. Selain itu, dibahas peningkatan kapasitas kolam penampungan air (pond) di KM 31 dan area sekitarnya yang telah mengalami keterbatasan kapasitas.

Untuk penanganan di sisi utara yang masih menunggu pembebasan lahan, peningkatan kapasitas pond dipertimbangkan sebagai solusi sementara guna mengurangi genangan. Pelaksanaannya perlu didukung kajian konsultan untuk memastikan kapasitas tampungan memadai. Rapat juga menyoroti penertiban kendaraan yang parkir sembarangan, termasuk usulan penerapan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) dari Jasa Marga di titik sekitar Hotel POP.

Yeti menegaskan pentingnya percepatan pengambilan keputusan agar langkah penanganan dapat segera ditindaklanjuti, dengan mempertimbangkan kewenangan masing-masing pihak dan ketersediaan anggaran. Kejelasan pembagian tugas menjadi krusial agar program jangka pendek maupun jangka panjang dapat direncanakan dan dilaksanakan secara terukur.

Melalui koordinasi lintas instansi ini, Pemerintah Kota Tangerang berharap tercapai kesepakatan konkret mengenai prioritas penanganan, pembagian tanggung jawab, dan dukungan pembiayaan. Dengan demikian, upaya mengurangi risiko banjir dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kelancaran dan kenyamanan akses menuju Bandara Soekarno-Hatta.