\

Gandeng IPB, Bappeda Kota Tangerang Dorong UMKM dan Stratup Naik Kelas Lewat Inkubator Bisnis

Di tengah persaingan usaha yang semakin dinamis dan pesatnya perkembangan teknologi digital, pelaku UMKM dan startup dituntut tidak hanya memiliki produk yang unggul, tetapi juga mampu membangun model bisnis yang tepat dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Bappeda Kota Tangerang gelar Fasilitasi Inkubator Bisnis Bagi Pelaku UMKM dan Startup Kota Tangerang yang menghadirkan narasumber Deva Primadia Almada, Manager Inkubator Bisnis LPA2I IPB University, serta Wiwik Puntorini, Staf Teknis Inkubator Bisnis LPA2I IPB University. Kegiatan ini diikuti oleh pelaku UMKM dan startup Kota Tangerang, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, akademisi, serta komunitas usaha.

Sekretaris Bappeda Kota Tangerang Tri Rachmah Fadjria P., menegaskan bahwa UMKM dan startup memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi lokal, pencipta lapangan kerja, sekaligus sumber lahirnya berbagai inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Di era saat ini, pelaku UMKM dan startup dituntut untuk tidak hanya mampu menghasilkan produk yang baik, tetapi juga memiliki model bisnis yang tepat, mampu membaca kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi digital, dan membangun jejaring usaha yang kuat. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang melalui Bappeda memandang penting penyelenggaraan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan dan inovasi daerah yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing,” ujarnya.

Deva Primadia Almada memaparkan bahwa keberhasilan startup dan UMKM tidak hanya ditentukan oleh ide bisnis yang menarik, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan inovasi, membangun kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan daya saing usaha.

Deva menjelaskan bahwa ekosistem bisnis yang sehat baik UMKM dan Startup memerlukan kolaborasi antara inventor, investor, regulator, tenant, dan inkubator bisnis sebagai lembaga intermediasi yang mendampingi proses pengembangan usaha. Ia juga menekankan pentingnya konsep “3 Fit” dalam membangun bisnis yang berkelanjutan, yaitu Problem-Solution Fit, Business-Founder Fit, dan Product-Market Fit.

“Pelaku usaha harus mampu mengidentifikasi masalah yang nyata di masyarakat, menghadirkan solusi yang tepat, memastikan kompetensi tim sesuai dengan bidang usaha yang dijalankan, serta menghasilkan produk yang benar-benar dibutuhkan pasar. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting sebelum usaha dikembangkan lebih jauh,” jelasnya.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai berbagai layanan inkubasi bisnis yang mencakup pelatihan, mentoring, coaching, business matching, fasilitasi pembiayaan, pengembangan jejaring usaha, hingga akses terhadap fasilitas produksi dan teknologi. Deva turut membagikan berbagai praktik baik dan kisah sukses startup binaan IPB University yang berhasil berkembang hingga menembus pasar nasional maupun internasional.

Sementara itu, Wiwik Puntorini membawakan materi mengenai Business Model Canvas (BMC), sebuah rancangan konsep abstrak sebuah model bisnis yang merepresentasikan strategi dan proses bisnis dalam organisasi yang dituangkan dalam bentuk kanvas. Ia menjelaskan bahwa BMC membantu pelaku usaha memahami keterkaitan antara berbagai komponen bisnis sehingga dapat menyusun strategi yang lebih efektif dan terarah.

Menurut Wiwik, terdapat sembilan elemen utama dalam BMC yang harus dipahami pelaku usaha, yaitu pelanggan, nilai tambah/keunggulan produk, saluran, hubungan dengan pelanggan, pendapatan, sumber daya kunci, kegiatan utama, mitra utama, dan pembiayaan.

“Melalui Business Model Canvas, pelaku usaha dapat melihat gambaran besar bisnisnya secara sederhana namun menyeluruh. Dengan memahami siapa pelanggan yang dilayani, nilai tambah yang ditawarkan, hingga bagaimana memperoleh keuntungan, pelaku usaha dapat menyusun langkah pengembangan usaha yang lebih terukur,” paparnya.

Ia juga menekankan bahwa penyusunan BMC harus diikuti dengan penyusunan action plan yang realistis agar strategi yang telah dirancang dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret dalam pengembangan usaha.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Bappeda berharap para peserta dapat memanfaatkan kegiatan ini secara maksimal untuk meningkatkan kapasitas usaha masing-masing.

“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menyusun model bisnis dan rencana aksi yang dapat langsung diimplementasikan. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir lebih banyak UMKM dan startup Kota Tangerang yang mampu mengidentifikasi peluang usaha secara tepat, memanfaatkan teknologi digital, membangun jejaring kemitraan yang luas, serta siap bersaing di tingkat regional maupun nasional,” tuturnya.

Melalui fasilitasi inkubator bisnis ini, Pemerintah Kota Tangerang terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan daerah, sehingga mampu melahirkan UMKM dan startup yang inovatif, tangguh, mandiri, serta berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Tangerang.