\

Sky Bridge Poris Plawad–Stasiun Batuceper Diproyeksikan Dibangun Tahun 2027, Jadi Langkah Strategis Menuju Kawasan TOD dan Transportasi Terintegras

Mewujudkan konektivitas transportasi yang aman, nyaman, dan terintegrasi bagi ribuan masyarakat pengguna angkutan umum menjadi fokus bersama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Tangerang. Salah satu langkah strategis yang kini dimatangkan adalah rencana pembangunan Sky Bridge yang akan menghubungkan Terminal Poris Plawad dengan Stasiun Batuceper sebagai bagian dari pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Poris Plawad.


Hal tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dihadiri Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perhubungan, serta Pemerintah Kota Tangerang, Jum’at (12/6/26). Pembangunan sky bridge dinilai menjadi solusi penting untuk meningkatkan keselamatan pengguna transportasi umum sekaligus memperkuat integrasi antarmoda di kawasan strategis tersebut.


Rachmat, dari Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) Kementerian Perhubungan menjelaskan bahwa rencana pengembangan TOD Poris Plawad sebenarnya telah bergulir sejak tahun 2018. Namun, pelaksanaannya sempat tertunda karena desain awal tidak memenuhi persyaratan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Upaya pengembangan kemudian dilanjutkan oleh Badan Pengelola Transportsi Jabodetabek (BPTJ hingga tahap market sounding yang berhasil menarik minat 11 calon investor.


Menurutnya, pembangunan fasilitas integrasi berupa sky bridge menjadi langkah awal yang perlu diwujudkan sebelum pembangunan TOD secara keseluruhan. 


“Kondisi saat ini menunjukkan tingginya kebutuhan fasilitas integrasi. Pengguna KRL dan Kereta Bandara masih harus menyeberangi Jalan Benteng Betawi yang merupakan jalan arteri dengan volume dan kecepatan kendaraan yang tinggi. Dari sisi keselamatan, kondisi ini sangat berisiko sehingga kami berinisiatif mendesain sky bridge yang menghubungkan Stasiun Batuceper dengan Terminal Poris Plawad,” ujarnya.


Rachmat menambahkan, sky bridge nantinya akan mengintegrasikan berbagai moda transportasi, mulai dari KRL, Kereta Bandara, terminal bus, hingga fasilitas Park and Ride. Seluruh dokumen pendukung pembangunan seperti Detail Engineering Design (DED), kajian lalu lintas, dan kajian lingkungan telah selesai disusun. Pada tahun 2026, Ditjen Intram akan fokus menyelesaikan aspek regulasi dan dokumen pendukung lainnya, sementara pembangunan fisik ditargetkan dapat dimulai pada tahun 2027.


“Jika kepastian anggaran sudah tersedia, kami akan menindaklanjuti dengan MoU maupun Perjanjian Kerja Sama bersama seluruh stakeholder terkait, termasuk Pemerintah Kota Tangerang, Ditjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian, PT KAI, dan BPJN,” jelasnya.


Ia menambahkan bahwa studi TOD telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu dan telah mencapai tahap market sounding. Ditjen Intram juga menargetkan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Oktober hingga November mendatang sebagai langkah percepatan implementasi proyek.


Dukungan terhadap pembangunan sky bridge juga disampaikan Direktorat Konektivitas dan Infrastruktur Logistik Kementerian PPN/Bappenas melalui Handhi. Ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.


“Kami sangat mendukung karena ini menjadi bagian dari integrasi moda transportasi yang memudahkan pergerakan masyarakat. Sky bridge tetap masuk dalam prioritas nasional dan merupakan bagian dari tujuan besar pengembangan TOD Poris Plawad yang saat ini terus kami dorong,” ungkap Handhi.


Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Tangerang untuk mendukung penuh pembangunan sky bridge dan kawasan TOD Poris Plawad. Menurutnya, keberadaan MoU menjadi landasan penting bagi Pemerintah Kota Tangerang dalam menyiapkan penganggaran serta pelaksanaan kewenangan daerah pada tahun 2027.


“Kami berharap pembangunan sky bridge dapat direalisasikan pada tahun 2027. Kami juga berharap MoU dapat terbentuk pada tahun 2026 sebagaimana yang telah disampaikan. Penguatan kerja sama dengan PT KAI dan BPJN sangat penting sebagai dasar bagi kami untuk mengalokasikan anggaran yang menjadi kewajiban pemerintah daerah,” ujar Yeti.


Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Tangerang akan fokus menyiapkan fasilitas Park and Ride serta penataan pedestrian di sepanjang Jalan Benteng Betawi sebagai bagian dari ekosistem integrasi transportasi di kawasan tersebut.


Asisten Deputi Sarana dan Prasarana Pendukung Konektivitas, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Liz Zeny Merry, berharap pembahasan yang dilakukan dapat mempercepat realisasi pembangunan sky bridge sekaligus menjadi pintu masuk terwujudnya kawasan TOD Poris Plawad.


“Semoga pembahasan hari ini dapat membantu percepatan pembangunan sky bridge dan menjadi langkah awal menuju terwujudnya TOD Poris Plawad. Kami juga berharap pembangunan sky bridge ini dapat terus menjadi prioritas dalam perencanaan nasional,” katanya.


Dengan dukungan lintas kementerian dan pemerintah daerah, pembangunan Sky Bridge Poris Plawad–Stasiun Batuceper diharapkan menjadi solusi nyata bagi peningkatan keselamatan, kenyamanan, serta integrasi transportasi publik di Kota Tangerang. Kehadiran fasilitas ini tidak hanya akan mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi terwujudnya kawasan TOD Poris Plawad sebagai simpul transportasi modern dan berkelanjutan di wilayah Kota Tangerang.